Wartawan Diintimidasi Oknum Anggota Satpol PP saat Demo
MATARAM – Seorang wartawan di Kota Mataram mendapat perlakuan kasar dari oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat meliput aksi demonstrasi yang digelar oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Palestina, di Kantor Gubernur NTB, Senin (24/08) siang.
Korbanya adalah Arif, wartawan media online Radar Mandalika.id, yang ditugaskan untuk peliputan di Kantor Pemerintah Provinsi NTB. Arif mendapat perlakuan kasar dari salah seorang oknum anggota Satpol PP Provinsi NTB dengan cara di dorong dan dibentak. Bahkan Handphone korban nyaris terjatuh akibat ditepis oleh oknum Pol PP tersebut.
Kejadian itu berawal saat aksi unjuk rasa oleh Aliansi Mahasiswa Peduli Palestina terkait Ekspor barang Kerajinan NTB ke Israil, di depan kantor Gubernur. Salah seorang massa aksi yang berada di dalam halaman kantor Pemprov diseret keluar oleh sejumlah anggota SatPol PP.

Arif yang saat itu berada dihalaman kantor Gubernur berusaha untuk mendokumentasikan kericuhan tersebut. Saat kejadian korban tidak sendirian, juga ada wartawan RadarLombok.co.id beserta salah seorang staf Humas Pemprov.
“Dilokasi itu, ada juga teman wartawan dari radarlombok.co.id dan salah satu staf Humas,” ujar Arif pada Koran pagi.
Dijelaskannya, saat mendokumentasikan momen kericuhan tersebut, salah seorang oknum anggota Pol PP yang bertubuh besar tiba-tiba menghampiri dan mendorongnya. Oknum itu juga melarang dirinya mengambil gambar.
“Meskipun saya sudah memperlihatkan IdCard dan menjelaskan bahwa saya wartawan Pemprov, namun dia tetap mendorong dan membentak saya sambil mengatakan kenapa kamu ambil gambar saya,” cerita Arif.
Padahal kata Arif, saat itu dirinya tengah fokus mengambil gambar salah satu mahasiswa yang diseret. Tak hanya dibentak dan didorong, korban juga diintimidasi agar menghapus video jurnalistik.
“Oknum itu juga mengintimidasi saya, agar menghapus foto dan vidio di Handphone saya. Dia (Oknum) datang dan bilang kenapa ambil muka saya, HP saya di tepis pake tangannya, saya di dorong dan baju saya ditarik,” ungkap Arif.
Menurut Arif, Pol PP harusnya fokus pada pengamanan aksi unjuk rasa, bukan mengintervensi dan menghalangi tugas jurnalistik. (Amr)
