Budayakan membaca dimanapun berada - Jangan lupa baca harian Koran Pagi Dompu, untuk informasi tercepat dan akurat.

Budaya Tidak Tahu Malu, Tau Diri dan Tau Tempat

Budaya Tidak Tau Malu, Tidak Tau Diri dan Tidak Tau Tempat
Catatan : Iwan Sakral – Dompu

Dijantung kota Dompu ada dua bangunan megah mentereng yang tidak kalah dengan bangunan mahal di kota-kota besar. Dua bangunan ini telah menjadi ikon Dompu. Setiap orang yang pertama kali ke Dompu pasti akan memuji dan mengakui betapa megahnya dua bangunan ini.

Bangunan pertama adalah Kantor Bupati Dompu. Pusat pemerintahan Kota Dompu dengan sisi sayap utara sebagai ruang kerja Bupati sedangan sayap selatan ruang kerja Wakil Bupati. Sisanya terdapat ruang kerja Sekda, para Kabag lingkup Setda dan dua dinas yakni Pariwisata dan Kominfo. Dilengkapi dua lift (sekarang banyak tidak berfungsi) dan keramik lantai yang mahal (sekarang hampir semuanya rusak) bangunan ini telah menjadi kebanggaan orang Dompu akan desain infrastrukturnya yang keren.

Tapi yang kita bahas sekarang bukan Kantor Bupati yang konon kabarnya para pendukung sedang panas dingin dengan dengan pendukung Wakil Bupatinya🙄 Yang dibahas adalah Bangunan kedua yakni ikon Dompu berlabel RSUD Dompu.

Dibawah kendali Direktur muda energik Dokter Fitrah, sulit di percaya sebuah Kabupaten kecil yang 95 persen APBD nya masih di asup pemerintah pusat memiliki sebuah fasilitas kesehatan yang bukan hanya megah. Tapi juga nyaman, bersih dan teratur. Pelayanan disini, terutama pelayanan untuk rawat inap sangat bagus, profesional dan telaten dengan standar keramahan dan empati petugas di atas rata-rata.

Semuanya serba cepat. Komunikasi antara unit kerja cepat, dari dokter ke bidan atau perawat sat set. Demikian juga antar instalasi dari poli, IGD, Laboratorium, apotik hingga ruang rawat inap sudah terintegrasi dalam sistem yang efisien.

Kenapa saya tahu betul? Karena saya kebetulan salah satu pengunjung setia RSUD Dompu. Anak bungsu saya hampir setiap bulan selama dua tahun terakhir atas izin Allah hampir selalu menjalani rawat inap di RSUD Dompu ini. Jadi sudah sangat hafal tentang sistem pelayanan RSUD. Untuk hal tekhnis tentu saja tidak saya pahami dan tidak penting karena bukan tentang pelayanan pada masyarakat.

Namun, yang sangat menyedihkan. Ketika standar operasional RSUD sudah demikian bagus. Namun perilaku, mental dan adab sebagian pengunjung RSUD sendiri sungguh sangat tidak terdidik. Mental kampungan masih terasa kental.

Ada banyak adab dan norma rumah sakit yang dilanggar dengan sengaja. Misal aturan jam kunjung. Setiap hari hampir selalu terjadi keributan antar Satpam dengan pengunjung yang memaksa masuk padahal belum waktunya berkunjung. Di IGD lebih parah lagi, satu pasien gawat yang masuk, kadang di tunggui 5 atau 6 orang keluarganya. Ini tentu saja sangat mengganggu dokter yang harus serba cepat melakukan tindakan. Jika ditegur, seringkali berujung cekcok🤭

Tapi perilaku yang paling tidak bisa di terima namun terjadi setiap hari dan didepan mata adalah adab soal kebersihan dan menjaga kesehatan. Meski tempat sampah hampir ada di mana mana. Namun masih banyak pengunjung yang buang sampah seenak perutnya saja. Mulai sampah makan minum hingga putung rokok. Khusus rokok ini akan dibahas tersendiri.

Aturan di RSUD Dompu sudah jelas bahwa di seluruh kawasan RSUD Dompu adalah kawasan BEBAS ROKOK. Sejumlah spanduk bahkan dipasang sebagai penanda agar tidak boleh ada asap rokok. Tapi apa yang terjadi?

Asap rokok tetap mengepul setiap hari. Didepan ruang IGD. di taman depan Laboratorium dan ICU, didepan apotik belakang, bahkan didepan ruang operasi manjadi surga para perokok untuk mengebulkan asap rokoknya. Bahkan yang membuat saya tertawa prihatin, di depan kamar VIP pun, banyak bapak-bapak asyik mahsyuk merokok. Sedangkan di dalam kamar anak atau istrinya sedang menjalani perawatan.

Pokoknya hampir semua tempat yang terbuka di RSUD Dompu pasti selalu saja ada yang merokok. “Kami lelah ingatkan Om.. kadang kami diajak berantem kalo dilarang” keluh sejumlah Satpam.

Dua malam terakhir, mungkin karena saya juga galau akibat kelamaan jagain si kecil di ruang rawat inap🫠 Saya lalu memutuskan untuk mendatangi satu persatu para hamba Allah yang merokok itu. Selain saya minta bantuan mereka untuk tidak merokok di dalam kawasan RSUD saya juga ingin tahu alasan mereka untuk merokok di dalam RSUD Dompu. Dan jawaban jawaban mereka juga beragam. Ada yang memang harus merokok karena tidak bisa tanpa rokok. Ada yang malas keluar dari kawasan RSUD karena kejauhan dan ada juga beberapa yang memang tidak tahu merokok di larang meskipun tempat mereka merokok itu jelas jelas ada tulisan DILARANG MEROKOK.

Kesimpulannya, sebagus apapun sistem dan standar operasi yang sudah diterapkan. Jika mental kampungan, semua gue dan tidak bisa dikasih tau masih bercokol. Maka sulit untuk kita melihat budaya tertib, bersih dan nyaman itu tercipta.

Jika melihat di Medsos Dompu sekarang penuh dengan tontonan tentang adab tidak tau malu, tidak tau diri dan tidak tau tempat mereka yang saling caci maki dan menghujat padahal dulunya teman atau sahabat, sedikit banyak tercermin juga dengan perilaku sebagian pengunjung RSUD Dompu yang tidak sadar diri bahwa mereka mengunjungi sebuah fasilitas tempat harapan untuk kesehatan dan nyawa manusia di pertaruhkan. (*)