Kisah Sendu Pegawai SPBU, Dua Bayi Kembarnya Meninggal di RSUD Dompu
Reportase : Iwan Sakral – Dompu

DOMPU – Air mata Bambang Eko (35 th), warga Kelurahan Simpasai Dompu tampak mengalir tak putus. Dalam gendongannya seorang bayi mungil berusia 8 hari terbujur kaku menjadi mayat. Bayi itu baru saja diambilnya dari ruang NICU RSUD Dompu. Disebelahnya, sang isteri, Nia (29 th) juga menjerit dan menangis serta pingsan berkali kali. Kematian anaknya Senin (25/4) malam itu adalah yang kedua, karena sehari sebelumnya saudara kembar bayi tersebut juga dinyatakan meninggal dan sudah dikuburkan.
Hati siapa yang tidak akan hancur, dua anak sekaligus meninggal dalam rentang waktu satu hari. Nia, ibu muda yang berprofesi sebagai guru honor ini sebelumnya hamil besar dan menurut hasil pemeriksaan dokter ia dinyatakan mengandung anak kembar. Lalu proses kelahiran itupun dilakukan melalui mekanisme operasi cesar di ruang operasi RSUD Dompu.
”Hari Jum’at tanggal 15 April, saya bawa isteri saya ke RSUD sekitar jam 12 siang. Dan tengah malam sekitar pukul 23,00 operasi itu akhirnya dilakukan,” tutur Bambang disela-sela acara persiapan acara pemakaman anaknya hari Selasa pagi. Kebahagiaan Bambang dan Eko tidak terperikan karena hasil operasi dokter Putu berhasil dengan lahirnya dua anak yang dinyatakan sehat dan tak kurang suatu apapun.
Nia kemudian dibawa ke ruang perawatan di ruangan rawat inap sedangkan anaknya dibawa ke ruang NICU yang selama ini dikenal sebagai tempat penitipan dan perawatan semua bayi yang baru dilahirkan. Nia hanya dalam dua hari perawatan lalu dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Sedangkan dua bayi kembar itu masih dirawat di ruang NICU.
Lalu, hari Sabtu tanggal 23 April salah satu bayinya dinyatakan meninggal dunia. Dan selang sehari kemudian yakni tanggal 25 April, bayi yang satunya lagi meninggal dunia. Bambang dan isterinya terutama keluarga besar mereka shock dan menyatakan tidak terima karena merasa banyak sekali kejanggalan dan hal-hal yang tidak tepat menurut pihak keluarga yang mengakibatkan meninggalnya dua bayi tersebut.
Atas dasar tersebut. Bambang ditemani beberapa keluarganya dua jam setelah anak keduanya dinyatakan meninggal langsung menuju Polres Dompu, bertemu dengan penyidik di ruang Satuan Reskrim Polres Dompu mengadukan secara resmi kasus kematian dua bayi kembar mereka.
Selanjutnya berdasarkan hasil BAP laporan polisi seperti yang dituturkan oleh Bambang pangkal mula keberatan keluarga adalah mereka merasa bayi ini baik-baik saja dan sehat walafiat. ”Bayi ini saat dibawa ke NICU dikatakan tidak ada gangguan kesehatan apa-apa,” tutur Bambang dihadapan penyidik Polres.
Selain itu, ditubuh bayi mereka kata Bambang dalam BAP tersebut, ada banyak ditemukan bekas tusukan jarum dan beberapa bagian tubuh bayi yang memar. ”Kita tidak tahu ini kenapa dan mengapa, karena memang tidak pernah diberitahu oleh mereka itu,” kata Bambang lagi. Bambang dalam kronologis laporan polisinya mengaku hanya diberitahu untuk menyiapkan beberapa kantong darah untuk transfusi darah. Dan semua kejadian kritis bayi-bayi tersebut menurut Bambang terjadi usai dilakukan transfusi darah yang lalu berujung meninggal dua bayi tersebut.
Yang paling membuat mereka sedih kata Bambang lagi, informasi dan penjelasan yang diberikan kepada mereka sangat sedikit kalau dikatakan tidak ada. ”Apalagi saya, isteri saya saja yang datang jenguk seperti sangat dipersulit,” kata Bambang yang kembali menangis saat memberikan keterangan. Bambang dan keluarganya memang benar-benar kecewa dan sempat ngamuk di RSUD karena merasa bahasa tubuh dan pelayanan petugas di NICU dirasakan tidak bersahabat. Ia merasa karena latar belakangnya yang hanya pegawai Pom Bensin dan isterinya yang guru honor sehingga dianggap sebelah mata.
Karena itu Bambang meminta aparat kepolisian, melakukan penyelidikan akan semua standar operasional pekerjaan di RSUD Dompu terutama dalam hal penanganan bayi. Apakah tenaga medis dan medik disana sudah memenuhi kualifikasi, prosedur perawatan sesuai SOP, termasuk sarana dan prasaran penunjang kehidupan serta standar kebersihan dan kesehatan di lingkungan rumah sakit yang tidak tercemar oleh hal-hal berbahaya bagi kesehatan setiap bayi. ”Cukup anak saya yang jadi korban, jangan lagi ada anak yang lainnya. Kasihan, karena ini nyawa manusia dan kita semua akan berdosa jika tidak ada yang bertindak,” kata Bambang.
Yang sangat memprihatinkan adalah kondisi Nia, ibu dua bayi kembar ini terus pingsan. Dukanya begitu dalam karena ia nyaris tak pernah melihat, menggendong dan menyusui anaknya. Inilah yang benar-benar membuat murka pihak keluarga. ”Kami betul-betul kecewa dan keberatan karena seperti sangat dipersulit hanya untuk melihat bayi itu,” ungkap Ardiansyah, saudara kandung Nia yang anggota Brimob Polres Dompu.
Apa yang terjadi di RSUD Dompu memang cukup memprihatinkan. Suka atau tidak suka RSUD adalah harapan terakhir semua orang yang butuh pertolongan. Dan itu semua tentu saja harus diimbangi dengan mekanisme pelayanan terbaik apalagi ini menyangkut nyawa manusia. Dan kita tunggu bersama kinerja aparat kepolisian menuntaskan persoalan yang memang banyak sekali menyita perhatian masyarakat Dompu akibat kepentingan masyrakat akan nyawa anak manusia. Apakah RSUD Dompu sudah melakukan semua prosedur yang benat dan pendekatan manusiawi atau tidak akan terlihat dari hasil kerja aparat Polres Dompu.
Pihak RSUD sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi. Humas RSUD Dompu, Iradat yang dihubungi tadi malam perihal adanya laporan polisi pihak keluarga mengatakan akan melaporkan dan berkoordinasi dengan pimpinannya. (*)
