Budayakan membaca dimanapun berada - Jangan lupa baca harian Koran Pagi Dompu, untuk informasi tercepat dan akurat.

Keluarga Korban Pembunuhan Sadis Blokade Jalan

DOMPU, – Massa dari Aliansi Masyarakat Peduli Korban Pembunuhan Sadis (AMPKPS) Kabupaten Dompu, memblokade jalan utama lintas Dompu – Bima, tepatnya di Desa Mangge Na’e, Kecamatan Dompu, Selasa (28/7) sore ini.

Mereka menutup ruas jalan dengan menggunakan, batu, balok serta berugak.

Aksi itu dilakukan warga sebagai bentuk protes terhadap pihak Kepolisian yang dianggap tidak merespon tuntutan massa aksi atas kasus pembunuhan sadis yang menewaskan Iskandar (35) warga Dusun Saka, Desa Mangge Asi, pada tanggal 12 Juni 2020 lalu.

Baca juga : Bertengkar, Pemuda ini Bunuh Kakak Sepupunya

Sebelumnya, pada selasa pagi (28/07) puluhan Massa dari AMPKPS menggelar aksi unjuk rasa di Mapolres Dompu, mereka mendesak kepolisian untuk mengungkap indikasi adanya pelaku lain dalam kasus pebunuhan antar saudara sepupu tersebut.

“Kami dari tadi pagi menggelar aksi di depan Mapolres, namun Kapolres tidak mau merespon tuntutan kami. Dan aksi blokade jalan ini adalah bentuk kekecewaan kami terhadap APH, kami tidak akan membuka akses jalan kalau Kapolres belum menemui kami di sini,” ujar massa aksi.

Pantauan wartawan di lokasi kejadian, sejumlah warga tumpah ruah di jalan tersebut. Aksi blokade jalan itu menyebabkan kemacetan panjang, seluruh pengguna jalan baik itu sepeda motor maupun mobil baik dari arah bima dan sebaliknya yang hendak melintas terpaksa harus mengantri menunggu jalan itu dibuka.

Dalam tuntutannya, massa aksi mendesak Kepolisian untuk menangkap pelaku lain dalam kasus pembunuhan terhadap korban Iskandar. Mereka juga menduga bahwa orang tua laki-laki dari pelaku SRF (28) warga Dusun Kala Timur, Desa O’o, juga ikut terlibat.

“Kami minta kepada Kapolres Dompu segera menetapkan terduga pelaku lain berdasarkan peran dan keterlibatannya,” ujar massa aksi.

Massa aksi juga menduga, bahwa kasus pembunuhan itu sudah direncanakan oleh pelaku. Untuk membuktikan itu, massa mendesak kepolisian untuk segera menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Rekonstruksi harus digelar di TKP. Kami sebagai keluarga korban menduga pembunuhan itu dilakukan oleh sekelompok keluarga secara berencana, karena memang saat kejadian, semua anggota keluarga pelaku berada di TKP,” ungkap massa aksi.

Dalam orasinya, massa aksi juga menuding kepolisian tidak serius menangani serta menindak lanjuti laporan keluarga korban. (Amr)