“PEMBELAJARAN UMANDAI (UNGGUL MANDIRI DENGAN ANEKA INOVASI) SEBAGAI INOVASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI BERBASIS TEKNOLOGI
OPINI / PENDIDIKAN

Oleh : FAUZI TRISNAWATI, S. Pd. Gr ( SMPN 1 WOJA Kab Dompu)
Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, terdapat Pembelajaran berdiferensiasi. Pebelajaran berdiferensiasi merupakan proses untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dan dilakukan dengan cara yang menyenangkan dengan memberikan berbagai macam kegiatan untuk memahami informasi baru bagi seluruh peserta didik di dalam kelas. Pembelajaran berdiferensiasi harus berpusat pada peserta didik (Student Center Oriented). Guru harus mampu mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas agar seluruh kebutuhan dan minat peserta didik dapat terpenuhi dengan baik.
Metode dan model pembelajaran yang dipilih oleh guru, akan mempengaruhi jalannya kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Guru harus mampu menyajikan pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, inovatif dan tentu saja harus berpihak pada peserta didik. Kebutuhan belajar, tingkat kemampuan peserta didik serta gaya belajarnya tidak boleh luput dari perhatian guru untuk disesuaikan dengan metode dan model pembelajaran yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
SMP Negeri 1 Woja, merupakan Sekolah Penggerak Angkatan ke tiga sebagai satu – satunya Sekolah Penggerak jenjang SMP di Kabupaten Dompu. Sebagai Sekolah Penggerak, tentunya Guru – guru dan Tenaga kependidikan yang bernaung di dalamnya harus mampu mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan baik. Pembelajaran berdiferensiasi sebagai strategi pembelajaran yang dianjurkan untuk diterapkan di dalam Kurikulum Merdeka menjadi salah satu senjata dalam menghadapi perkembangan zaman dalam memenuhi kebutuhan belajar peserta didik.
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, saya mengikuti kegiatan bimbingan teknis PembaTIK tahun 2024 yang diselenggarakan oleh BLTP Kemendikbudristek sebagai bentuk pengembangan diri saya dalam pembelajaran berbasis TIK. Melalui kegiatan ini, saya terpilih sebagai Sahabat Teknologi NTB 2024 dan mengemban tugas untuk berbagi dan berkolaborasi dengan siswa, rekan sejawat, komunitas belajar dan guru yang ada di Kabupaten Dompu, NTB maupun lintas propinsi secara luring (tatap muka) maupun daring (tatap maya). Praktik baik pembelajaran yang saya lakukan adalah “PEMBELAJARAN UMANDAI (Unggul Mandiri dengan Aneka Inovasi)” menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi berbasis teknologi.
Berikut akan saya paparkan Praktik Baik Pembelajaran UMANDAI dengan menggunakan metode STAR (Situasi – Tantangan – Aksi – Refleksi)
SITUASI
Pada setiap pembelajaran IPA di kelas 7, hanya sedikit peserta didik yang mau terlibat aktif dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan karena peserta didik belum sepenuhnya saling mengenal antara satu dengan yang lain, masih malu – malu dalam berinteraksi dan belum memiliki keberanian untuk tampil di depan kelas serta mengemukakan pendapat. Takut salah dan rasa grogi berlebihan menjadikan peserta didik kelas 7 cenderung tidak mau unjuk diri meskipun memiliki kemampuan akademik yang bagus.
- TANTANGAN
Tantangan yang saya hadapi adalah peserta didik saya cenderung lebih suka bermain, tidak suka mengerjakan tugas, masih beradaptasi dengan cara belajarnya di SD (Sekolah Dasar). Ketika peserta didik diminta untuk membawa gadget saat pembelajaran, hanya sedikit menggunakannya untuk belajar, gadgetnya lebih banyak digunakan untuk membuka aplikasi yang tidak bermanfaat untuk pembelajaran seperti bermain game online, memutar musik dan membuka sosial media seperti tiktok dan fesbuk.
- AKSI
Sebagai guru saya merasa tertantang untuk menerapkan model pembelajaran yang dapat menciptakan iklim belajar yang menyenangkan, aktif, kreatif, inovatif, bernalar kritis serta mampu berkolaborasi dan bergotong royong untuk menjawab tantangan yang saya hadapi. Mengikuti PembaTIK memberikan saya pengalaman yang sangat berharga untuk menerapkan inovasi dalam pembelajaran yang memanfaatkan teknologi. Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT atau Teams Games Tournament sangat cocok untuk menjawab tantangan serta menerapkan inovasi teknologi dalam pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan suatu model pembelajaran dimana peserta didik bersama dalam kelompok – kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan akademik yang berbeda akan saling membantu satu sama lainnya dalam kegiatan turnamen. Pada pembelajaran ini, aneka inovasi yang saya lakukan terdapat pada video pembelajaran interaktif yang saya kreasikan sendiri sebagai media pembelajaran, kemudian pada kegiatan turnamen saya menggunakan beragam gim edukasi kreasi sendiri berbasis teknologi. Gim edukasi yang saya buat memanfaatkan aplikasi Canva for edu dan Educaplay. Hasil yang saya harapkan dari penerapan model pembelajaran ini adalah peserta didik mampu meningkatkan kemampuan akademik, keterampilan sosial, serta kemampuan interpersonal. Model pembelajaran Kooperatif tipe TGT dapat saya implementasikan untuk kelas 7 sebagai salah satu model pembelajaran berdiferensiasi yang mampu meningkatkan minat, semangat, motivasi, keaktifan, kreativitas dan kerja sama antar peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Dimana pembentukan kelompok kooperatif berdasarkan kemampuan peserta didik bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik agar terlibat secara aktif dan bekerja sama dalam proses berfikir dan berkreasi dalam kegiatan belajarnya.
Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- a) Peserta didik bekerja dalam kelompok – kelompok kecil
- b) Terdapat turnamen permainan / gim edukasi
- c) Pemberian penghargaan kelompok
Menurut Slavin (1995), yang mencetuskan pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 sintaks pembelajaran, yaitu: 1). Tahapan penyajian kelas (class precentation); 2). Tahapan belajar dalam kelompok (teams; 3). Tahapan permainan (games); 4). Tahapan pertandingan (class precentation); dan 5). Tahapan penghargaan kelompok (team recognition). Dalam turnamen, peserta didik mewakili kelompoknya dan akan bertanding dengan anggota dari kelompok lain yang memiliki kemampuan akademik setara. Dalam TGT terdapat tahap gim (permainan) sehingga menimbulkan suasana kegembiraan pada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
Sebelum menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT di dalam kelas, terlebih dahulu saya melakukan koordinasi dan komunikasi dengan Kepala Sekolah. Berdiskusi dengan rekan sejawat juga menjadi hal lain yang saya lakukan untuk memperoleh data dan informasi mengenai peserta didik di kelas 7.
Saya juga mengajak seorang rekan guru untuk menjadi observator pada [embelajaran saya di kelas. Setelah itu saya melakukan perancangan dengan mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Modul Ajar, LKPD, PPTX, bahan ajar dan media pembelajaran berupa Video Pembelajaran yang saya kreasikan di level 3. Saya juga membuat gim edukasi dalam bentuk kuis menggunakan aplikasi Educaplay dan Canva kemudian saya mem-print out semua perangkat pembelajaran yang akan saya gunakan sebagai handout bagi peserta didik yang tidak memiliki gadget. Sementara peserta didik yang memiliki smartphone dapat mengakses seluruh perangkat pembelajaran menggunakan Link yang saya bagikan di grup WA kelas.
Selanjutnya saya memetakan peserta didik kelas 7 sesuai dengan kemampuan akademiknya. Saya mendata peserta didik berdasarkan nilai Ijazah Sekolah Dasar (karena mereka belum memiliki nilai Rapor) dengan level nilai tinggi, sedang, cukup dan rendah, kemudian saya mengelompokkan peserta didik dalam kelompok – kelompok kecil dimana setiap kelompok terdiri dari berbagai level kemampuan akademik. Tujuan dari pengelompokkan ini karena setiap kelompok akan mengikuti turnamen sesuai dengan level kemampuan akademik. Peserta didik yang mengikuti Turnamen akan dibagi menjadi 4 meja, yaitu Meja A untuk peserta didik yang memiliki nilai tinggi, Meja B untuk peserta didik dengan nilai cukup tinggi, Meja C untuk peserta didik yang memiliki nilai sedang dan Meja D untuk peserta didik dengan kemampuan akademik cukup rendah. Peserta didik yang tidak mengikuti turnamen akan mengerjakan asesmen formatif yang ada di LKPD dengan menjawab pertanyaan.
Seperti biasa, kegiatan pembelajaran diawali dengan salam sapa dan pembiasaan berdo’a, menanyakan kesiapan belajar dan mengecek kehadiran peserta didik. Setelah itu saya menyampaikan tujuan pembelajaran, alur belajar, pemahaman bermakna, dan pertanyaan pemantik. Pada kegiatan inti, saya mulai dengan menayangkan video pembelajaran kreasi saya yang telah diunggah di Youtube sebagai sumber materi pelajaran. Selain itu saya juga meminta peserta didik mencari sumber belajar lain yang relevan. Selanjutnya saya membagi peserta didik dalam kelompok berdasarkan kemampuan akademiknya kemudian membagikan handout dan link bahan ajar juga LKPD pada masing – masing kelompok.
Kegiatan berikutnya adalah turnamen. Peserta turnamen yang telah berbagi tugas menempati meja yang telah disiapkan. Saya meminta peserta didik untuk membacakan ketentuan turnamen. Setelah itu menyiapkan permainan edukasi pada setiap meja. Setiap meja memiliki gim/ permainan yang berbeda disesuaikan dengan tingkat kemampuan akademik peserta turnamen. Meja A mengerjakan permainan Luang Tarya dengan gim edukasi yang saya buat memanfaatkan Canva for Edu.. Meja B mengerjakan kuis Planet – planet dalam Tata Surya dengan permainan Froogy Jumps atau Katak melompat yang saya buat menggunakan aplikasi Educaplay. Sementara untuk peserta meja C dan D masing – masing mengerjakan kuis Tata Surya berupa pilihan ganda dengan tampilan yang menarik dan memasangkan gambar. Gim ini saya buat dengan memanfaatkan aplikasi Canva berbasis kertas. Selesai turnamen saya mengumpulkan hasilnya dan melakukan penilaian. Setelah memperoleh hasil turnamen kemudian saya menentukan kelompok yang berhasil keluar sebagai juara umum atau kelompok dengan skor tertinggi. Setelah mengumumkan hasil turnamen, saya memberikan penghargaan kepada kelompok pemenang berupa poin nilai yang dapat peserta didik gunakan untuk menambah nilai rapor, kepada peserta yang meraih skor tertinggi saya memberikan hadiah sebagai apresiasi dan motivasi bagi peserta didik lain untuk belajar lebih giat lagi.
Pada kegiatan akhir, peserta didik melakukan refleksi pembelajaran. Saya memberikan apresiasi dan menutup pembelajaran dengan mengingatkan mereka materi pelajaran yang akan datang.
- REFLEKSI
Adapun hasil refleksi pembelajaran dalam menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT dapat saya paparkan sebagai berikut :
- Dampak untuk peserta didik :
- Siswa menjadi aktif, kreatif dan kolaboratif, serta bernalar kritis
- Suasana Kelas menjadi tertib dan aman
- Tutor sebaya sebagai sumber belajar selain guru berjalan dengan baik sehingga memudahkan peserta didik yang lambat dalam belajar terbantu.
- Siswa mampu menerima berbagai perbedaan latar belakang teman–temannya sehingga mengurangi konflik
- Keterampilan sosial siswa terasah, seperti berbagi tugas, aktif bertanya, mengemukakan pendapat dan lain sebagainya.
- Dampak bagi guru :
- Dapat menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa menjadi aktif, kreatif dan kolaboratif
- Model pembelajaran kooperatif tipe TGT menjadikan fungsi tutor sebaya berjalan maksimal sehingga guru terbantu dalam memberikan pemahaman materi pelajaran pada siswa yang lambat dalam belajar
- Berkurangnya konflik di dalam kelas sehingga kelas menjadi tertib dan aman
Dalam pembelajaran di kelas saya ditemani oleh rekan guru yang bertindak sebagai observator. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh rekan guru saya dapat mengetahui kemampuan saya dalam mengajar, juga sejauh mana keberhasilan penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT di dalam kelas. Dengan adanya observator memudahkan saya melakukan refleksi dan evaluasi unruk perbaikan saya ke depan.
Pemahaman terhadap model pembelajaran kooperatif tipe TGT sangat penting untuk diketahui karena dapat mendorong dan membantu peserta didik lebih aktif, termotivasi, dan antusias dalam pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran yang menerapkan permainan sebagai medianya dapat meningkatkan kepuasan peserta didik pada kegiatan pembelajaran di kelas, kerja sama tim, dan pemahaman materi ajar.
Adapun kelebihan dan tantangan yang saya hadapi setelah menerapkan inovasi pembelajaran UMANDAI dapat saya paparkan sebagai berikut :
- Penerapan inovasi pembelajaran berbasis teknologi UMANDAI menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT secara berkelompok dapat membuat peserta didik menjadi lebih antusias dan bersemangat dalam pembelajaran. Selain suasana kelas menjadi tertib, penyampaian materi ajar dengan media video pembelajaran interaktif dan edugame dapat memicu kreativitas peserta didik dalam pembelajaran.
- Mengurangi konflik antar peserta didik dalam proses pembelajaran.
- Melatih ranah kognitif peserta didik untuk meningkatkan kemampuan akademiknya.
- Menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompok.
- Membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, lebih rileks dan memunculkan suasana yang menyenangkan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran karena adanya kegiatan berupa gim dan turnamen.
Dalam menerapkan pembelajaran UMANDAI berbasis teknologi, saya harus menguasai aplikasi yang dapat menunjang saya untuk memanfaatkan TIK. Selain itu, saya harus pandai memilih materi pelajaran yang sesuai untuk diterapkan pada model pembelajaran Kooperatif tipe TGT. Saya juga harus mempersiapkan perangkat pembelajaran dengan sebaik mungkin sebelum diterapkan di dalam kelas. Misalnya membuat gim/ permainan untuk turnamen dengan model permainan yang menarik minat dan banyak disukai oleh peserta didik.
Demikianlah praktik baik yang saya susun berdasarkan pengalaman pembelajaran yang telah saya lakukan. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi salah satu referensi penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka. Salam dan bahagia. Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.
REFERENSI
Slavin, Robert e. 1995. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Terjemahan Cooperative Learning : Theory, Reasearch and Practice, oleh Narulita Yusron. Bandung : Nusa Media
SUREL : fauzitrisnawati52@guru.smp.belajar.id
