Catatan Jejak Literasi Dompu
Literasi Menghantui Generasi Muda di Era Digital
Oleh : Irmaniah – Duta Pendidikan Intelegentia NTB 2022
Revolusi industri memberi banyak akses kemudahan bagi masyarakat,
berbagai hal dikemas serba instant serta berbagai platform sosial media dan digital kerap kali hadir memberi perubahan besar bagi sebagian besar kalangan masyarakat.
Tak tertinggal, generasi muda menjadi pion utama sasaran empuk era digital saat sekarang. Seolah memberi akses terhadap banyak generasi dalam membentuk pola kesehariannya. Ada yang memanfaatkan kemajuan digital sebagai sarana mengembangkan potensi diri, adapula yang berperan sebagai penikmat karya-karya generasi yang mengembangkan potensi tersebut.
Berada di zona nyaman, menghabiskan waktu berjam-jam di depan gawai, bermain game, bahkan mengakses berbagai macam kontent negatif serta sterotype tentang “generasi rebahan” atau “generasi micin” dan sebagainya seakan menjadi hal lumrah dalam pandangan generasi muda. Padahal jika dilihat dari perannya, generasi muda sangatlah krusial. Pada era reformasi dimulai, pemuda adalah tonggak utama lahirnya peradaban. Dalam era sumpah pemuda, di era tersebut pula pemuda mengambil alih tugas dan tanggung jawab besar yang teruang dalam sumpah pemuda sendiri.
Jika ditelusuri lebih jauh lagi era presiden pertama Indonesia, Soekarno selalu mengedepankan pemuda dalam naskah pidatonya. Dimana pemuda
disebut mampu mengguncangkan Dunia. Dari sejarah-sejarah tersebut pemuda identik dengan agen perubahan dan kontrol social dalam kemajuan bangsa. Hal tersebut didukung oleh pasal 16 dan 17 UU Nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan yang menjelaskan bahwa pemuda haruslah berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.
Namun apa kabar generasi muda hari ini? generasi muda dengan segala
bentuk amanah bangsa yang diemban dipundaknya kini mulai terkikis perananya oleh revolusi industri. Ditambah dengan fakta yang ada bahwa tingkat literasi dikalangan generasi muda sangatlah rendah. Generasi takut membiasakan diri dalam literasi. seakan hal tersebut menjadi beban tuntutan yang sering kali menghantui generasi muda. Menurut data penelitian yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) bahwa angka literasi di Indonesia berada pada rangking 62 dari 70 Negara yang disurvei. UNESCO juga menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia hanya satu orang yang rajin membaca.
Hasil riset lain yangbertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Cental Connecticut State University pada tahun 2016 menyebutkan bahwa Indonesia masuk pada peringkat ke-60 dari 61 Negara dalam hal minat membaca, persis berada di bawah Thailand pada urutan ke-59. Yang tentunya sebagian besar rendahnya minat baca tersebut adalah berasal dari kalangan generasi muda. Jika dilihat dari fungsinya, literasi memberi dampak besar terhadap pengetahuan, pemahaman, pembentukan pola pikir dan kreatifitas generasi. Yang jika dilakukan secara berkala dapat mendongkrak kualitas anak bangsa. Oleh karenanya, harusalah menjadi perhatian khusus seluruh aspek diberbagai kalangan. Baik dikalangan pemerintah, praktisi pendidikan, masyarakat maupun pemuda.
Dilihat dari fakta dan data diatas, terdapat beberapa faktor penyebab rendahnya angka literasi dan minat baca di Indonesia. Diantaranya adalah berasal dari tidak adanya penanaman pemahaman tentang pentinya literasi sejak usia dini, sistem pendidikan di Indonesia yang tidak begitu mendukung literasi sebagai kegiatan utama dalam kurikulum nasional, dan penerapan literasi disekolah yang masih sangat minim. Dimana, literasi tidak dijadikan prioritas utama pada proses pembelajaran tetapi hanya sebatas untuk mengisi kegiatan jam belajar yang kosong, atau mengambil sisa-sisa waktu dari jam belajar yang telah selesai. Faktor lain juga berasal dari penanganan literasi yang hanya sekedar melalui seminar dan workshop. Menyebabkan terlalu banyak seminar literasi hanya akan mengarah pada sekedar wacana tanpa adanya tindakan nyata.
Lalu bagaimana solusinya? Dalam hal ini dibutuhkan kerjasama dengan
berbagai kalangan. Baik dikalangan pemerintah, praktisi pendidikan, lembaga pendidikan, penggiat literasi, relawan pendidikan, masyarakat dan pemuda. Namun promotor utama yang paling berperan disini adalah pemerintah. Pemerintah seharusnya mengupayakan mengambil peran kongkrit salah satunya dengan memprioritaskan literasi sebagai program utama diberbagai lini. Semisal, pkurikulum pendidikan, pemerintah mencantumkan literasi sebagai kompetensi dasar utama pada kurikulum nasional. Hal tersebut tentunya akan menjadi acuan untuk sekolah-sekolah seluruh Indonesia dalam menerapkan literasi secara berkala kepada siswanya.
Pemerintah juga seharusnya memberikan perhatian dan dukungan khusus kepada perpustakaan daerah, TBM (Taman Baca Masyarakat), relawan pendidikan yang berfokus pada literasi baik dari segi pengadaan alat-alat pendukung seperti buku bacaan dan sarana lainnya untuk menarik masyarakat dalam berliterasi. Selain hal tersebut, pemerintah bisa membangun minat baca generasi muda dengan melakukan pengadaan perpustakaan digital yang bisa diakses kapanpun dan dimanapun yang berisi semua bacaan referensi dan buku-buku yang berkualitas secara praktis menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada.
Upaya-upaya demikian diharapkan mampu mendongkrak angka literasi di
Indonesia. Perubahan bukan lagi tentang wacana, tetapi perubahan haruslah dimulai dengan tindakan yang nyata. Generasi yang sadar akan peranannya sudah pasti akan menjadi tonggak perubahan. Pilar-pilar bangsa akan mampu diaktulisasikan ketika
generasi berkualitas dan mau belajar. Sebab generasi sebagai estafet pembangunan dan literasi sebagai ajang mengkualitaskan diri.
*) Penulis adalah mahasiswa di STKIP YAPIS Dompu

