Budayakan membaca dimanapun berada - Jangan lupa baca harian Koran Pagi Dompu, untuk informasi tercepat dan akurat.

Sensitivitas Pengambil Kebijakan Hadapi Covid

Catatan Iwan Sakral – Dompu

Belakangan ini sistem imun dan kekebalan hati setiap orang di Dompu PASTI sangat terganggu karna setiap saat beranda Medsos ataupun corong-corong masjid mengumumkan kabar kematian. Belum lagi fakta hampir setiap rumah ada saja yg sakit dengan gejala.yg hampir seragam mengarah ke C19.

Keresahan hati orang Dompu makin menjadi manakala melihat fakta satu demi satu fasilitas kesehatan yg harusx menjadi harapan mreka yang sakit terpaksa ditutup karena karyawannya banyak yang positif. Bukan hanya Puskesmas – Puskesmas yang ditutup tapi belakangan bahkan IGD dan beberapa ruangan penting di RSUD Dompu ditutup.

Suasana makin terasa horor ketika di beberapa titik jalan sejumlah petugas gabungan melakukan razia masker kepada siapapun pengguna jalan yg lewat. Ini salah satu upaya untuk menekan dan memaksa masyarakat agar patuh dan tunduk pada Prokes.

TAPI.. sangat disyangkan ditengah angka positif dan kematian akibat covid yg begitu tinggi JUSTRU belum diikuti dengan kebijakan yang sifatnya tegas dan sistematis terutama di titik-titik keramaian yg memungkinkan bnyak orang berkumpul.

Salah satu contoh adalah sekolah. Entah kebetulan atau bagaimana dan mungkin skenario alam. Puncak wabah ini justru bersamaan dengan masuknya siswa baru di sekolah. YANG namanya siswa baru apalagi di TK dan SD pasti wajib setiap anak itu diantar dan ditungguin orang tuanya.
Ini sudah lumrah karena selain masih kecil dan belum tau apa-apa. Mereka juga masih memerlukan orang tuanya di awal-awal masuk sekolah. Nanti sebulan dua bulan kedepan barulah tak perlu ditemani.

Alhasil bisa dibayangin.. hampir seluruh SD dan TK sejak dua hari terakhir ini menjadi.pusat keramaian baru. Karena hampir semua orang tua siswa datang ke sekolah dan mau tak mau membentuk kerumunan intens. Sedangkan untuk SMP dan SMA meski tak ada orang tua yg antar namun kehadiran seluruh siswa baru dan pengurus OSIS dalm satu waktu tetap sj menimbulkan kerawanan karena jumlahnya yang ratusan orang.

IDEALNYA pengambil kebijakn dalam hal ini Dikpora atau Kepala Daerah bisa sensitif menyikapi hal ini. Tak hanya sekadar berlindung dalam edaran bahwa kebijakan proses KBM dengan daring atau luring diserahkan ke sekolah masing masing. Ini seperti melemparkan tanggungjawab ke sekolah. Karna setiap sekolah akan berbeda menanggapi edaran ini.

Pemerintah segera saja tegas ambil keputusan misal dengan menunda dulu belajar tatap.muka selama 1 atau 2 minggu. Ini jika pemerintah menganggap bahwa covid harus benar-benar dihadapi dengan semua potensi buruknya. Jangan hanya sibuk ‘memaksa’ setiap orang untuk di vaksin terutama ASN dgn berbagai ‘ancaman’ TAPI kendali atas pusat2 kemungkinan merebaknya wabah tidak dilakukan dengan cepat dan tepat.

Yang saya contohkan diatas baru soal sekolah. Karena masih ada lagi kegiatan-kegiatan lain yg memicu kerumunan dan keramaian dan semestinya bisa dilakukan intervensi dengan bijaksana oleh pemerintah.

Ayo dong segera bertindak bos-bos pemegang kekuasaan. Selamatkan generasi masa depan kita. Insya Allah sambil tetap berdoa.kepada Allah SWT, badai ini PASTI akan segera berlalu.

Rasanggaro, 14 Juli 2021
Iwan Sakral