Budayakan membaca dimanapun berada - Jangan lupa baca harian Koran Pagi Dompu, untuk informasi tercepat dan akurat.

Maradona si Tangan Tuhan

Diego Armando Maradona

*) Penulis : Adiansyah Dompu

Dalam khasanah sejarah Tafsir Islam, terdapat perbedaan makna Teologis saat beberapa aliran faham keagamaan berdebat tentang perwujudan fisik Tuhan, khususnya makna ayat ‘YADULLAH’ yang berarti ‘Tangan Allah.’ Dan perdebatan tersebut sudah berlangsung sangat keras selama berabad-abad.

Dan dalam tulisan ini, kita tidak bermaksud untuk ikut masuk dalam perdebatan yang sangat keras tersebut. Saya hanya ingin menulis bahwa perbedaan dan perdebatan Teologis tersebut seolah berhenti saat seorang ‘Dewa Bola’, seorang El Diego, menyihir dunia dengan Gol paling nakal yang dijuluki Gol ‘Tangan Tuhan’ saat Timnas Argentina melawan Timnas Inggris pada babak Semifinal Piala Dunia 1986 di Mexico, dimana beberapa saat kemudian Sang Seniman terbesar lapangan hijau tersebut juga mencetak gol terbaik sepanjang masa sebagai ‘Penebus dosa’, hanya beberapa menit setelah gol ‘Tangan Tuhan’ tercipta.

Piala Dunia 1986 adalah milik Sang Dewa.
Argentina menjuarai Piala Dunia tersebut setelah mengalahkan tim ‘Der Panser’, Jerman Barat, dengan penuh kebanggaan saat seluruh mata tertuju padanya. Tidak pernah ada sebuah ajang sebesar piala Dunia yang hanya ‘dikuasai’ oleh satu orang pemain yang kemudian kelak beberapa dasawarsa setelahnya, semua obrolan tentang dunia Sepakbola tidak akan pernah terlepas dari kharisma yang dia punya. Drama demi drama terus dia torehkan, dari prestasi, kehidupan pribadi maupun kontroversinya.

Piala dunia 1990 juga menjadi uji shahih bagaimana kharisma seorang Dewa Bola mengalahkan rasa Primordial seseorang terhadap Bangsanya sendiri. Saat itu, Argentina melawan Tuan Rumah Italia di babak perempat final PD 1990, yang celakanya, pertandingan tersebut secara kebetulan justru berlangsung di Stadion di kota Napples yang terlanjur menjadikannya sebagai sosok Dewa, tempat Klub NAPOLI bermarkas. Tuan Rumah Italia seolah tidak bermain di kandang sendiri karena dukungan penonton justru diberikan kepada Argentina. Sejarah sepakbola juga mencatat, bagaimana seorang Bek berkebangsaan Italia yang juga bermain untuk Timnas Italia pada PD 1990 dan celakanya, sekali lagi, adalah tandem setia Maradona di Klub NAPOLI, bek tersebut tidak melakukan tugasnya menjegal seorang ‘Play Maker’ melainkan terdiam dan terpesona oleh gocekan demi gocekan sang Dewa.

Terlalu banyak kisah indah seorang DIEGO ARMANDO MARADONA yang bisa diceritakan. Tapi kita coba juga masuk pada sisi lain kehidupannya.

Maradona adalah seorang yang berpaham Anti Kemapanan, seorang Sosialis.

Dia seringkali melawan kepongahan Negara-negara adidaya PBB atas sikapnya yang tidak adil terhadap dunia ketiga, bahkan berani melawan FIFA, induk olah raga yang membesarkan namanya dan sangat ditakuti oleh semua pemain sepakbola karena begitu mudahnya karir mereka ‘dimatikan’ jika berani macam-macam. Dia seorang pengagum Fidel Castro yang saat itu menjadi musuh bebuyutan Amerika Serikat, bahkan menjadi sahabatnya.

Entah, apakah hubungan tersebut ada kaitannya dengan masa depan karirnya, Piala DUNIA 1994 yang berlangsung di Amerika Serikat seolah menjadi tempat dia ‘dimatikan’ karirnya. Sang Dewa Bola diusir dari ajang tersebut karena terbukti menggunakan doping yang Maradona sendiri merasa bingung bagaimana hasil testnya bisa positif. Dan akhirnya Argentina kemudian tersingkir oleh Rumania 2-3 di babak 16 Besar. Pemandangan Maradona menangis di bangku penonton saat Argentina disingkirkan menjadi sangat ikonik, setara dengan pemandangan saat Maradona dengan ceria mengangkat Piala dunia 1986 atau pada saat menangis di lapangan setelah disingkirkan Timnas Jerman di PD 1990.

Hari ini, 26 November 2020, Sang Pemain Sepakbola Terbesar dan salah satu atlet terbesar sepanjang sejarah telah meninggal dunia. Sang Dewa Bola akhirnya tunduk pada faktor alam. Gangguan jantung yang dia alami selama bertahun-tahun akhirnya menjadi penyebab meninggalnya. Dunia telah kehilangan seorang Besar.

Selamat Jalan, El Diego.
Teruslah menggocek bola di sana, di dalam keabadian…
Terimakasih telah membuat saya mencintai Sepakbola…

@adiansyahdompu